Catching Fire

Rabu, 06 Januari 2016

Sejarah Gunung Slamet

http://infotegal.com/wp-content/uploads/2014/03/wisata_tegal_gunung_slamet_s.jpgMengenal Sejarah Gunung Slamet
 
Gunung Slamet, gunung yang berdiri kokoh di sebelah pojok tenggara Kabupaten Tegal ini berbatasan juga  dengan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, dan Kabupaten Pemalang. Tinggi gunung ini sekitar 3.428 mdpl. Jadi bisa dikatakan sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa (setelah Gunung Semeru).
Gunung yang masif aktif hingga saat ini pada jaman dahulu, bernama Jamurdwipa (Bahasa Sansekerta) sedangkan perubahan nama menjadi Gunung Slamet diperkirakan setelah masuknya Islam ke Pulau Jawa. Banyak cerita yang beredar bahwa penggunaan nama Gunung Slamet mengartikan sebuah harapan agar gunung tersebut tidak meletus atau tetap “slamet” ataupun jika meletus, tidak memberikan dampak yang besar.
Menurut artikel ensiklopedia bebas di Wikipedia, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa. Oh iya, Gunung Slamet ini termasuk dalam tipe gunung strato. Karakter letusan Gunung Slamet umumnya letusan abu disertai lontaran skoria (batuan vulkanik,berwarna gelap ukuran butir antara (4-32mm) mempunyai pori-pori berbentuk memanjang) dan batu pijar, kadang mengeluarkan lava pijar.
Gunung Slamet tercatat pernah mengalami beberapa letusan seperti yang dilansir oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi dalam akun twitternya @BPPTKG , yaitu:
  • Tahun 1772, tanggal 11-12 Agustus, terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1825, pada bulan oktober terjadi letusan abu
  • Tahun 1835, pada bulan September, terjadi letusan abu selama 2 hari
  • Tahun 1847, ada peningkatan kegiatan aktivitas
  • Tahun 1849, tanggal 1 Desember terjadi letusan abu
  • Tahun 1860, tanggal 19 Maret dan 11 April, terjadi letusan abu
  • Tahun 1875, selama 4 bulan terjadi letusan abu, Mei, Juni, November dan Desember
  • Tahun 1885, tanggal 21 – 30 Maret terjadi letusan abu
  • Tahun 1890, Terjadi letusan abu
  • Tahun 1904, tanggal 14 Juli – 9 Agustus terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1923, pada bulan Juni terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1926, pada bulan November (selama seminggu) terjadi letusan abu dan lava
  • Tahun 1927, tanggal 27 februari terjadi letusan abu dan lava
  • Tahun 1928, tanggal 20-29 Maret dan 8-12 Mei terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1929, tanggal 6,7 dan 15 Juni terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1930, tanggal 2-13 April terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1932, tanggal 1 juli dan 12 September terjadi letusan abu
  • Tahun 1934, tercatat ada peningkatan aktivitas
  • Tahun 1939, Tanggal 20 maret, akhir April, 6 Mei, 15 Juli dan 4 Desember, terjadi letusan abu
  • Tahun 1940, tanggal 15-20 Maret dan 15 April, terjadi letusan abu
  • Tahun 1943, tanggal 18 Maret, 1-10 Oktober terjadi letusan abu dan suara dentuman
  • Tahun 1944, tanggal 5 Januari, 30 Juni, Juli dan 28-30 Oktober terjadi peningkatan aktivitas
  • Tahun 1948, tanggal 14 November terjadi peningkatan aktivitas
  • Tahun 1949, Terjadi peningkatan aktivitas
  • Tahun 1951, tanggal 11 Februari, 26 Juni, 2 Juli, 24 Agustus, Oktober dan 30 Desember terjadi peningkatan kegiatan
  • tahun 1952, tanggal 1 januari terjadi peningkatan aktivitas
  • Tahun 1953, bulan Juli, Agustus dan Oktober terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1955, tanggal 12-13 November, 6 dan 16 Desember, terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun 1957, tanggal 8 Februari terjadi letusan abu
  • Tahun 1958, tanggal 17 April, 4 dan 6 Mei, 5 dan 13 September, Oktober terjadi letusan abu dan lava
  • Tahun 1960, pada bulan Desember terjadi letusan abu
  • Tahun 1961, pada bulan Januari terjadi letusan abu
  • Tahun 1966, terjadi letusan abu
  • Tahun 1969, bulan Juni, Juli dan Agustus terjadi letusan abu
  • Tahun 1973, bulan Agustus terjadi semburan lava di kawah
  • Tahun 1988, tanggal 12-13 Juli terjadi letusan abu dan lava pijar
  • Tahun1989, 9 sampai akhir Oktober terjadi peningkatan kegempaan
  • Tahun 1990, tanggal 20 februari – 29 maret terjadi peningkatan kegempaan
  • Tahun 1991, tanggal 28 Juni – 9 Juli, terjadi peningkatan kegempaan
  • Tahun 1992, tanggal 12 maret – 4 April terjadi peningkatan kegempaan
  • Tahun 2000, terjadi peningkatan kegempaan
  • Tahun 2004, bulan November terjadi tremor hembusan
  • Tahun 2005, tanggal 21 Juli terjadi tremor hembusan
  • Tahun 2009, Aktivitas #GunungSlamet dinaikkan mjd WASPADA mjd SIAGA tgl 23 April 2009, peningkatan berlangsung hingga Juli 2009
Dari Gunung Slamet inilah hingga sekarang kita bisa menikmati wisata alam pemandian air panas Guci dan Baturraden. Dan beberapa sungai besar yang berhuhulu Gunung Slamet yang antara lain:  sungai Banjaran, Logawa, Bojo, Penaki, Gronggongan,  Lembarang, Gung, Brengkah, Comal, Batur, dan Erang.

Jalur Pendakian

Gunung Slamet dari ketinggian
Gunung Slamet dari ketinggian 28.000 kaki
Gunung Slamet meskipun terlihat garang, namun hal tersebut tidak menyurutkan minat bagi para petualang untuk menaklukan gunung ini. Ada beebrapa titik pendakian Gunung Slamet, antara lain:
  • Bambangan, Desa Kutabawa, Kec. Karangreja, Purbalingga
  • Baturraden
  • Desa Gambuhan, Jurangmangu, dan Gunungsari di Kabupaten Pemalang.
  • Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal
Untuk titik pendakian dari Obyek Wisata Guci, jalur yang dilalui cukup terjal, namun meskpipun terjal Anda akan disajikan view pemandangan paling baik dari jalur pendakian lainnya. Patut dicatat juga, di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air sehingga disarankan membawa bekal air yang cukup.

Pusat Kerajaan

Selain terkenal dengan keindahannya, Gunung Slamet juga menyimpan sejarah penting. Yaitu sebagai tempat didirikannya Kerjaan Galuh Purba (sekitar abad ke 1-6 M), yang konon merupakan kerajaan pertama yang berdiri di Jawa Tengah. Kerajaan Galuh Purba sendiri terdiri dari beberapa kerajaan kecil, antara lain:
  • Kerajaan Galuh Rahyang lokasi di Brebes, ibukota di Medang Pangramesan
  • Kerajaan Galuh Kalangon lokasi di Roban, ibukota di Medang Pangramesan
  • Kerajaan Galuh Lalean lokasi di Cilacap, ibukota di Medang Kamulan
  • Kerajaan Galuh Tanduran lokasi di Pananjung, ibukota di Bagolo
  • Kerajaan Galuh Kumara lokasi di Tegal, ibukota di Medangkamulyan
  • Kerajaan Galuh Pataka lokasi di Nanggalacah, ibukota di Pataka
  • Kerajaan Galuh Nagara Tengah lokasi di Cineam,ibukota di Bojonglopang
  • Kerajaan Galuh Imbanagara lokasi di Barunay (Pabuaran), ibukota di Imbanagara
  • Kerajaan Galuh Kalingga lokasi di Bojong (bukan Bojong yang sekarang ada di Kabupaten Tegal), ibukota di Karangkamulyan
Dari kerajaan-kerjaan kecil tersebut dapat disimpulkan jika kerajaan ini memiliki wilayah yang cukup luas, yaitu Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen ,Kedu, Kulonprogo, dan Purwodadi.
Jadi tidak heran jika disekitar Gunung Slamet dan beberapa bukit yang mengintarinya banyak terdapat reruntuhan batu-batu yang konon merupakan peninggalan kerajaan, warga sekitar menyebutnya dengan candi.
Cukup menarik bukan mengenai si Gunung Slamet ini, semoga penjelasan ini bermanfaat bagi semuanya :)

Mengenal Gunung Hutan



Gunung Hutan

SEJARAH GUNUNG HUTAN
Mountaineering atau Pendakian gunung sebenarnya telah dilakukan oleh para nenek moyang kita yang dimulai dengan bapak manusia Nabi Adam AS yang menjelajahi bukit tursina untuk mencari cintanya Siti Hawa. Siti Hajar yang telah lintas dari bukit marwah ke bukit Safa ditemani dengan sherpa JIBRIL untuk mencari air bagi ismail yang lagi kehausan. Dan pendakian demi pendakian hingga saat ini masih terus berlangsung dan kelak (tak lama lagi ) giliran kalian untuk melanjutkan amanah menjaga kelanggengan kemanusian.
Sejarah Mountaineering di Dunia
1942 : Anthoine de Ville memanjat tebing Mont   Aiguille (2907 m) di pegunungan alpen untuk berburu chamois (Kambing gunung)
1624:  Pastor pastor Jesuit, melintasi pegunungan himalaya dari gharwal di Iindia ke Tibet menjalankan tugas misionarisny
1760 :Professoe de Saussure menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menaklukkan puncak mont blanc guna kepentingan ilmiahnya.
1786 : Puncak tertinggi di pegunungan alpen Mont Blanc (4807 m) akhirnya dicapai oleh Dr. Michel Paccaro dan Jacquet Balmat.
1852:  Batu pertama jaman keemasan dunia keemasan di Alpen diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.
1852 : Sir George Everest, akhirnya menentukan ketinggian puncak tertinggi dunia, dan di abadikan dengan namanya (8.848 m), orang Nepal menyebut puncak ini dengan nama sagarmatha, orang tibet menyebutnya chomolungma.
1878 : Clinton Dent (bukan pepsoden) memnjat tebing Aigullie de dru di perancis yang memicu trend pemanjatan tebing yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup curam dan sulit, banyak orang menganggap peristiwa ini adalah kelahiran panjat tebing
1895 : AF Mummery orang yang disebut sebagai bapak pendakian gunung modern hilang di Nanga Parbat (8.125 m), pendakian ini adalah pendakian pertama puncak di atas ketinggian 8.000 m.
1924 : Mallory dan Irvina mencoba mendaki Everest, keduanya hilang diketinggian sekitar 8.400 m
1953 : Pada tanggal 29 mei Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay akhirnya mencapai atap dunia puncak everest.
Sejarah Mountaineering di Indonesia
1623 : Yan Carstenz adalah orang pertama  melihat adanya pegunungan sangat tinggi, dan tertutup salju di pedalaman irian
1899: Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz hampir 3 abad sebelumnya tentang “ … pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju!” di perdalaman Irian. Maka namanya diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia.
1962 : Puncak Carstenz akhirnya berhasil dicapai oleh tim pimpinan Heinrich Harrer.
1964 : Beberapa pendaki Jepang dan 3 orang Indonesia, yaitu Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak yang berhasil didaki itu sempat dianggap Puncak Carstensz, sebelum kemudian dibuktikan salah.
Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil di daki oleh ekspedisi yang dipimpin Philip Temple.
Dua perkumpulan pendaki gunung tertua di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung dan Mapala UI di Jakarta, lalu di susul oleh perkumpulan perhimpunan pencinta alam lainnya mulai dari, MPA,SISPALA, KPA, ERNIPALA, MODIPALA dan sebagainya  1972 : Mapala UI, diantaranya adalah Herman O.  Lantang dan Rudy Badil, berhasil mencapai Puncak cartenz. Mereka merupakan orang-orang sipil pertama dari Indonesia yang mencapai puncak ini.
ILMU MEDAN PETA KOMPAS (IMPK)
Pendaki gunung, harus memiliki pengetahuan dasar, menyangkut navigasi darat dan peta-kompas.
Ini semua digunakan selama perjalanan di alam bebas. Selain itu, pendaki juga harus membawa sejumlah peralatan standar. Apa saja itu?
Dalam olahraga naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki. Peralatan navigasi standar yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah peta, kompas, dan altimeter.
Dalam arti populer, peta adalah representasi bentuk bentang bumi yang dicetak di kertas. Peta sendiri ada banyak ragamnya, sesuai keperluan. Namun peta yang bermanfaat bagi pendaki gunung adalah topografi, peta yang menggambarkan bentuk-bentuk dan kondisi permukaan bumi. Dalam melihat peta, perhatikan skala atau perbandingan jarak dengan jarak sebenarnya.
Skala peta dapat ditunjukkan dalam angka (misalnya 1:250.000) atau dalam bentuk garis.
Untuk itu, jangan menggunakan fotokopi peta yang diperbesar atau diperkecil ukurannya. Selain membingungkan penghitungan jarak, pembesaran peta tidak menunjukkan akurasi relief bumi. Ada baiknya, pendaki lebih dahulu mempelajari makna le-genda (simbol konvensional) dan kontur-garis penunjuk relief bumi-yang ada di peta. Penjelasan legenda selalu ada di bagian bawah peta.
Dengan membaca kontur, dapat dibayangkan kondisi medan sebenarnya. Garis-garis kontur bersisian rapat menunjukkan medan yang curam, bila jarang berarti medannya landai.
Lengkungan kontur yang menonjol keluar dari sebuah titik, menggambarkan punggung bukit atau gunung (ridge), sebaliknya adalah lembah.
Di lembah-lembah seperti itu biasanya ada aliran sungai. Ditambah kompas, peta merupakan alat untuk dapat menentukan posisi pendaki di gunung atau menunjukkan arah jalan.
Teknik menggunakan variasi kompas dan peta dikenal dengan cross bearing, terbagi dalam resection (menentukan posisi kita di dalam peta) dan intersection (menentukan posisi satu tempat di peta).
Resection dilakukan dengan mula-mula mencari dua titik di medan sebenarnya yang dapat diidentifikasi dalam peta seperti puncak-puncak gunung. Kedua, hitunglah sudut (azimuth) kedua obyek tadi terhadap arah utara dengan kompas. Ketiga, pindahlah ke peta. Dengan menggunakan busur derajat, letakkan titik pusat busur derajat menghimpit titik identifikasi obyek dalam peta.
Bila sudut azimuth yang diperoleh kurang dari 180 derajat, tambahkan azimuth itu dengan angka 180 derajat. Bila azimuth yang didapat dari kompas lebih dari 180 derajat, tambahkan dengan angka 180 derajat. Keempat, gunakan angka hasil perhitungan itu (dinamakan teknik back azimuth) untuk membuat garis lurus dari titik identifikasi.
Perpotongan dua garis dari dua titik identifikasi menunjukkan letak kita di dalam peta.
Menentukan titik awal perjalanan di peta merupakan hal yang penting. Di tengah perjalanan, seorang pendaki kerap tidak dapat memainkan teknik cross bearing karena faktor cuaca atau medan yang tidak memungkinkan melihat titik-titik orientasi.
Bila demikian, membandingkan keadaan medan sekitar dengan kontur peta dan merunutnya dari titik awal perjalanan, kadang menjadi satu-satunya cara menentukan posisi. Dalam keadaan seperti itu, altimeter atau piranti penunjuk ketinggian sangat dibutuhkan.
Saat ini fungsi kompas dan altimeter dapat diganti dengan GPS (Global Positioning
System/piranti canggih menggunakan sinyal satelit). Dengan alat itu, pendaki dapat
mengetahui kedudukannya dalam lintang dan bujur (koordinat) bumi. Pemakainya tinggal mencari besaran koordinat di peta. Bahkan GPS model mutakhir dapat menyimpan rekaman gambar peta melalui CD-Rom. Dengan begitu, pendaki bisa mengabaikan peta karena peta sekaligus tersaji di layar monitornya.
A. Pengetahuan Dasar Navigasi Darat
Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering
berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita, dan tanah air.
1. Peta
Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan
permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan
perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan
tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.
Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :
Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta
Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya
sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta
• Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya
Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian
sama diatas permukaan laut.
Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).
Legenda peta, adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut dibuat untuk
memudahkan pembaca menganalisa peta.
Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.
2. Koordinat
Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :
a. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate)
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus
dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang
sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat,
menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama.
Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30?), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60?).
b. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik
acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT).
Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke
timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1mm).

Follow me on Tweeter
: trionotomi@gmail.com

Mengenal Rock Climbing

ROCK CLIMBING

weight: bold; text-align: center;"> ROCK CLIMBING

Panjat tebing adalah suatu olahraga yang mengutamakan kelenturan dan kekuatan tubuh, kecerdikan serta ketrampilan pengguanaan peralatn dan dalam menyiasati tebing itu sendiri.

Prosedur Pemanjatan
Pemanjatan dilakukan dengan selalu berpegang pada prinsip keseimbangan tubuh ditarik keatas oleh tiga bagian anggota tubuh (dua tangan dan satu kaki atau sebaliknya), sementara satu anggota lainnya digunakan untuk mencari tempat pegangan atau pijakan baru yang lebih tinggi



Safety

Keselamatan harus ditempatkan diurutan pertama kegiatan panjat tebing. untuk itu diperlukan minimaldua orang, satu orang sebagai perintis jalur (Leader) dan seorang lagi sebagai pengaman pemanjatan (Belayer).Panjat Tebing Alam (Kondisi Alam)
Teknik pemanjatan menjaga keseimbangan, tiga kategori umum dalam teknik pemanjatan :

1. free climbing
Memanjat pada permukaan tebing yang masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki dan tangan. Free climbing menggunakan alat, hanya mengandalkan kekuatan.

2. friction
Teknik yang hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai penumpu. Dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical.

3. fissure climbing
Teknik yang memanfaatkan celah. Dalam pemanjatan menggunakan anggota badan.

Teknik pemanjatan akibat perubahan zaman:

1. AID (Artifical) Climbing
Pemanjat menggunakan langsung peralatan untuk menambah ketinggian.
2. Boldering
Seni memanjat tebing-tebing pendek yang umum nya melatih kemampuan memanjat.
3. Soloing
Hanya mengandalkan kekuatan tubuh tetapi menggunakan alat keselamatan.

Peralatan panjat tebing:
A. Tali

Tali melindungi para pemanjatan, apabila jatuh tidak menyentuh tanah.

B. Webbing, digunakan untuk membuat:
  • Harness
a) Full body harness

b) Seat harness

c) Chest harnes
  • Runner
  • Etrier
C. Karabiner
D. Piton / paku tebing
E. Chock
F. Helm
G. Sepatu
H. Runner

Runner ( tempat tumpuan ) tali pengaman yang dipasang oleh pemanjat pertama untuk memperkecil jarak jatuh yang akan timbul

I. Bilay

Pergantian kata pemanjat (pengaman pemanjat).

Bilay :

1) Bilay tubuh : teknik bilay, yang menggunakan tubuh sebagai media untuk mengamankan tali pemanjatan.

2) Bilay alat : mengamankan tali pemanjatan dengan menggunakan alat

* Pull :tali pemanjatan ditarik oleh bilayer
* Slack :tali pemanjatan dilonggarkan
* On bilay :pemberitahuan pemanjatan pada bilayer
* Belay on :bilayer siap mengamankan pemanjat
* Climbing :pemanjat mulai memanjat
* Off bilay :pemanjat sudah tidak perlu di bilay karena po sisinya sudah aman.
* Rock :pemanjat mengalami keguguran batu.

Tingkat kesulitan dalam pemanjatan:
1) Kelas Satu
Berjalan tegak tanpa menggunakan peralatan pendakian
2) Kelas dua
Pendakian pada daerah yang tidak terlalu terjal namun sudah dilengkapi dengan perlengkapan kaki yang memadai dan dibantu oleh tangan
3) Kelas tiga
Medan pendakian dibutuhkan peralatan dan teknik khusus untuk mendaki.
4) Kelas empat
Pendakian dinding terjaldibutuhkan peralatan yang khusus juga.
5) Kelas lima
Pendakian dinding terjal tegak lurus, menggunakan perlengkapan memanjat
6) Kelas enam
Pendakian gunung sepenuhnya bergantung pada alat.

Terminology tebing :

1) Face :untuk vertical 900
2) Hang :untuk dinding yang menjorok keluar(900<1320)>0
4) Roof :dinding yang membentuk atap
5) Crack :untuk celah antara batu sempit, dangkal yang memanjat
6) Chimney :untuk celah antara batu berbentuk memanjang lebar, bisa
untuk dimasuki manusia.

System pemanjatan :
1) Himalaya tatic
System pemanjatan dengan rute panjang sehingga membutuhkan waktu yang lama. Pemanjatan terdri atas beberapa kelompok dan basecamp.berhasilnya satu orang dari tim, maka satu kelompok itu dinyatakan berhasil.
2) Alpine tatic
System ini dikembangkan dipegunungan eropa yang mempunyai tujuan semua pemanjat harus sampai dipuncak baru dikatakan berhasil.
3) Slegg tatic
Gabungan antara teknik himalaya dan alpine, pertama-tama himalaya baru alpine taktik.

Mengenal Caving

mi17.blogspot.com/">trionotomi17.blogspot.com

CAVING Gua Vertikal Selokang Kallang Caving dirintis oleh Édouard - Alfred Martel (1859-1938) yang pertama kali eksplorasi di Gouffre de Padirac, Prancis pada awal tahun 1889 dan ekspedisi pertama pada kedalaman 110 meteran poros vertikal basah di menganga Gill, Yorkshire, Inggris pada tahun 1895. Ia mengembangkan teknik sendiri berdasarkan tali dan tangga logam. Martel mengunjungi Kentucky di Mammoth Cave National Park pada bulan Oktober 1912. 
Gua Vertikal Selokang Kallang
Pada 1920an yang terkenal di AS caver bernama Floyd Collins yang melakukan ekspedisi penting di daerah tersebut dan pada 1930-an, dan akhirnya caving menjadi semakin populer, tempat Caving yang baik berada di Pegunungan Alpen dan di dataran tinggi karst dari barat daya Perancis (Causses dan Pyrenees) eksplorasi gua di sini sangat baik, kegiatan ilmiah dan rekreasi sangat dianjurkan disini. Robert de Joly, Guy de Lavaur dan Norbert Casteret adalah tokoh-tokoh ekspedisi saat itu. Gua yang disurvei sebagian besar gua-gua di Southwest Perancis. Selama Perang Dunia II, tim alpine terdiri dari Pierre Chevalier, Fernand Petzl, Charles Petit-Didier dan lain-lain menjelajahi sistem gua Dent de Crolles dekat Grenoble, Prancis yang menjadi sistem dieksplorasi terdalam di dunia (-658m) pada waktu itu. Kurangnya peralatan yang tersedia selama perang memaksa Pierre Chevalier dan seluruh tim untuk mengembangkan peralatan mereka sendiri, yang mengarah ke inovasi teknis. Scaling-tiang (1940), tali nilon (1942), penggunaan bahan peledak di gua-gua (1947) dan mekanik tali-ascenders (Henri Brenot itu "monyet", pertama kali digunakan oleh Chevalier dan Brenot di sebuah gua tahun 1934) dapat langsung berhubungan untuk eksplorasi sistem gua Dent de Crolles.
Pada tahun 1941, cavers Amerika mengorganisasikan diri ke dalam Speleological Perhimpunan Nasional (NSS) untuk memajukan eksplorasi, konservasi, penelitian, dan pemahaman tentang gua di Amerika Serikat. Caver Amerika Bill Cuddington, yang dikenal sebagai "Vertikal Bill", mengembangkan teknik tali tunggal (SRT) di akhir 1950-an. Pada tahun 1958, dua alpinists Swiss, Juesi dan Marti bekerja bersama-sama, menciptakan ascender tali pertama dikenal sebagai Jumar. Pada tahun 1968 Bruno Dressler bertanya Fernand Petzl, yang bekerja sebagai masinis logam, untuk membangun alat tali-naik, sekarang dikenal sebagai Petzl Croll, bahwa ia telah dikembangkan oleh mengadaptasi Jumar ke pit caving. dalam perkembangan tersebut, Petzl memulai pada tahun 1970-an, peralatan manufaktur perusahaan caving bernama Petzl. Perkembangan rak rappel dan evolusi sistem kenaikan mekanik diperpanjang praktek dan keselamatan eksplorasi pit ke tempat yang lebih besar dari cavers.
Caving di Amerika Serikat, Kanada, Potholing di Inggris dan Irlandia dikenal juga dengan sebutan spelunking Tantangan yang terlibat dalam caving bervariasi sesuai dengan gua yang dikunjungi, selain tidak adanya cahaya masuk, juga medan yang tidak terduga dan bahaya air. Gua diving jauh lebih berbahaya 
Caving sangat populer di tahun 1940an dan 50-an ketika komunitas caving besar dikembangkan di Amerika Serikat . Dalam beberapa dekade terakhir , dalam melakukan caving sudah mengutamakan safety karena memakai pelindung modern dan peralatan lainnya. Walaupun Kadang-kadang caving dikategorikan sebagai "olahraga ekstrim" namun penggemar olahraga ini sudah semakin banyak. Caving sering dilakukan untuk kenikmatan dari kegiatan di luar ruangan atau untuk latihan fisik , serta eksplorasi asli, mirip dengan gunung atau menyelam . Ilmu fisika atau biologi juga merupakan tujuan penting untuk beberapa cavers , sementara yang lain terlibat dalam gua fotografi .

Dalam melakukan caving baiknya berangkat dengan kelompok untuk menjaga segala kemungkinan terburuk.
Gua Vertikal Selokang Kallang
Penting digunakan saat caving Barang Penting dalam Caving
og" id="post-704">
Erosi adalah suatu proses pengelupasan dan pemindahan partikel-partikel tanah atau batuan akibat energi kinetis berupa air, salju, angin.
Sedimentasi adalah jumlah material tanah berupa kadar lumpur dalam air oleh aliran air sungai yang berasal dari proses erosi di daerah hulu, yang diendapkan pada suatu daerah di hilir dimana kecepatan pengendapan butir-butir material suspensi telah lebih kecil dari kecepatan angkutnya.
Kerusakan lingkungan adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
Erosi dapat disebabkan oleh:
  1. angin;
  2. air.
Erosi angin
Daerah yang peka terhadap erosi angin antara lain pantai pasir, daerah semi kering/kering (Nusa Tenggara), atau pada lahan tambang yang dibuka sangat luas.
Dampak utama dari erosi angin antara lain:
  1. Penurunan produktivitas lahan;
  2. Gangguan debu; dan
  3. Terjadinya endapan debu pada selokan, kanan kiri jalan, pagar dan bangunan-bangunan.
Untuk mengendalikan erosi dalam jangka yang lama digunakan tanaman tahunan dan/atau tanaman penutup tanah (cover crop).
Sebelum tanaman berfungsi dilakukan tindakan :
  1. Menggunakan mulsa sebagai penutup lahan;
  2. Membuat kondisi tanah tahan terhadap erosi dengan cara membiarkan tanah tetap menggumpal, membasahi permukaan tanah dan membuat lekukan-lekukan tanah; dan
  3. Mengurangi kecepatan angin dengan membuat pemecah angin.
Pemecah angin ini dapat berupa deretan pohon atau semak belukar yang dibiarkan tumbuh atau ditanam tegak lurus arah angin, pohon atau semak belukar yang ditanam sebaiknya dari jenis tanaman yang cepat tumbuh dan kuat atau dapat pula dengan membuat pagar.
Dalam penempatan dan pemilihan pemecah angin harus dipertimbangkan faktor-faktor :
  1. Arah angin erosive.
  2. Tinggi dan jarak tanam.
  3. Permeabilitas atau kelolosan angin (paling tinggi 40 %).
  4. Kontinuitas dan panjang pemecah angin dan turbulensi pada daerah yang akan direklamasi.
Erosi air
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya erosi oleh air adalah curah hujan, kemiringan lereng (topografi), jenis tanah, tataguna lahan (perlakuan terhadap lahan) dan tanaman penutup tanah.
Beberapa cara untuk mengendalikan erosi air antara lain:
1. Meminimalisasikan areal terganggu.
  • Membuat rencana detail kegiatan penggunaan lahan tambang dan reklamasi;
  • Membuat batas-batas yang jelas areal tahapan pengembangan;
  • Penebangan pohon sebatas areal yang akan dilakukan penggunaan lahan tambang;
  • Pengawasan yang ketat pelaksanaan penebangan pepohonan.
2. Membatasi/mengurangi kecepatan air limpasan dengan:
  • Pembuatan teras;
  • Pembuatan saluran diversi/pengelak (saluran yang sejajar garis kontur);
  • Pembuatan Saluran Pembuangan Air (SPA)
3. Meningkatkan infiltrasi (peresapan air)
  • Pembuatan rorak/saluran buntu berupa lubang-lubang atau saluran buntu yang dibuat di antara tanaman pokok untuk menampung air dan meresapkannya ke dalam tanah
  • Penggaruan tanah searah kontur. Akibat penggaruan, tanah menjadi gembur dan volume tanah meningkat sebagai media perakaran tanaman.
4. Menampung sedimen
  • Untuk menampung sedimen akibat erosi yang terjadi dapat dibuat dam penahan atau dam pengendali
  • Bila endapan sedimen telah mencapai setengah dari badan bendungan sebaiknya sedimen dikeruk dan dapat dipakai sebagai lapisan tanah atas.
5. Memperkecil erosi
  • Untuk memperkecil erosi terutama pada saat baru selesai penataan lahan dapat dilakukan melalui kegiatan penanaman cover crop (tanaman penutup).
  • Pada lahan yang relatif datar penanaman cover crop dapat dilakukan secara manual, sedangkan pada lahan yang mempunyai kelerengan sedikit terjal dapat dilakukan penanaman cover crop dengan menggunakan hydroseeding.
6. Pengelolaan air yang keluar dari areal penggunaan lahan tambang.
  • Penyaluran air dari lokasi tambang ke perairan umum harus sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  • Bila curah hujan tinggi perlu dibuat bendungan yang kuat dan permanen yang dilengkapi saluran pengelak.
  • Letak bendungan ditempatkan sedemikian rupa sehingga air larian mudah ditampung dan dibelokkan serta kemiringan saluran air jangan terlalu curam.
  • Dalam membuat bendungan permanen sebaiknya dilengkapi dengan saluran pelimpah (spillways), pipa pembuangan (out let), dan lain-lain yang dianggap perlu.